Kamis, 15 April 2010

FARMAKOLOGI (CARA PEMBERIAN OBAT)

CARA PEMBERIAN OBAT

1. Pengantar

Dalam pengelolaan penderita, ketepatan cara pemberian obat bisa menjadi faktor penentu keberhasilan suatu pengobatan, karena cepat lambatnya obat sampai ditempat kerjanya (site of action) sangat tergantung pada cara pemberian obat.

Ada berbagai cara pemberian obat diantaranya dapat diberikan secara peroral melalui mulut dimana obat melewati saluran pencernaan dan ini sering disebut dengan enteral.

Absorbsi obat yang diberikan secara oral dapat berlangsung didalam mulut, lambung ataupun usus. Absorbsi dapat berlangsung dimulut melalui mukosa mulut, jika obat diberikan secara sublingual (dibawah lidah) atau secara bukal (antara mukosa pipi dan gusi). Cara ini dapat menguntungkan karena mencegah perusakan obat oleh asam lambung. Disamping itu,obat dari lambungakan dibawa ke hati melalui vena porta sehingga dapat dimetabolisme oleh hati. Hal ini harus diperhitungkan agar jangan sampai salah hitung pada pemberian dosis. Jika dikehendaki bahan aktif obat tidak dirusak oleh asam lambung, maka sediaan obat (tablet) dapat dibuat agar tidak mengalami desintegrasi atau pecah didalam lambung tapi baru pecah didalam usus. Dengan cara melapisi bahan obat dengan bahan yang tahan asam. Jika absorbsi terjadi di usus, obat dapat mengalami metabolisme oleh hati pada saat pertama kali melintasi hati (first pass metabolism).

Pemberian obat melalui saluran cerna yang dapat menghindari obat dari first pass metabolism adalah secara sublingual dan perektal (rectum). Setelah di absorbs melewati mukosa rectum maka obat dibawa oleh aliran darah vena hemorhoidalis inferior langsung masuk kedalam vena cava inferior tanpa melalui vena porta.

Pemberian obat secara parenteral dapat melalui saluran nafas (per inhalasi), langsung pada tempat yang dituju (topical). Obat dapat pula dimasukkan kedalam tubuh melalui suntikan (injeksi) dengan cara intracutan ( disuntikkan didalam kulit diatas membran basalis), subcutan (dibawah kulit), intramuscular (didalam bundel otot lurik), intraperitoneal ( didalam rongga peritoneum), intrakardial (langsung kedalam rongga jantung), intratecal (kedalam cairan serebrospinal), intrasinovial (dalam rongga sendi) dan intravena (langsung kepembuluh darah vena).

Keuntungan pemberian obat secara parenteral :

· Efek timbulnya lebih cepat dan teratur dibandingkan dengan pemberian peroral.

· Dapat diberikan pada penderita yang tidak kooperatif, tidak sadar atau muntah-muntah.

· Sangat berguna dalam keadaan darurat.

Kerugian pemberian obat secara parenteral :

· Dibutuhkan cara asepsis.

· Menyebabkan rasa nyeri.

· Bahaya penularan hepatitis serum.

· Sukar dilakukan sendiri oleh penderita.

· Tidak ekonomis.

Pemberian dengan cara intravena paling cepat responnya karena tidak mengalami tahap absorbsi, maka kadar obat dalam darah diperoleh secara cepat, tepat, dan dapat disesuaikan langsung dengan respon penderita. Kerugiannya efek toksik mudah terjadi karena kadar obat yang tinggi segera mencapai darah dan jaringan, disamping itu obat yang disuntikkan secara intravena tidak dapat ditarik kembali. Obat dalam larutan minyak yang mengendapkan konstituen darah dan menyebabkan hemolisis tidak boleh diberikan dengan cara intravena.

Suntikan secara subcutan hanya boleh digunakan untuk obat yang tidak menyebabkan iritasi jaringan. Absorbsi biasanya terjadi lambat dan konstan sehingga efeknya bertahan lama. Pencampuran obat dengan vasokontriktorjuga akan memperlambat absorbsi obat tersebut.

Pada suntikan intramuscular, kelarutan obat dalam air menentukan kecepatan dan kelengkapan absorbsinya. Obat yang sukar larut pada pH fisiologis misalnya digoksin, fenitoin dan diazepam akan mengendap ditempat suntikan sehingga absorbsinya berjalan lambat, tidak lengkap dan tidak teratur.

Suntikan intratecal yaitu suntikan langsung kedalam ruang subaraknoid spinal, dilakukan bila diinginkan efek obat yang cepat dan setempat pada selaput otak atau sumbu serebrospinal, seperti pada anastesia spinal atau pengobatan infeksi yang akut.

Suntikan intraperitoneal tidak dapat dilakukan pada manusia karena bahaya infeksi dan adesi terlalu besar.

2. Percobaan

a. Tujuan

* Untuk mengetahui bagaimana cara memberi penandaan pada hewan percobaan.

* Untuk mengetahui berbagai pengaruh rute pemberian obat terhadap efek yang ditimbulkan.

* Untuk mengetahui teknik pemberian obat melalui rute intraperitoneal (i.p.) dan secara oral.

* Untuk mengetahui pengaruh peningkatan dosis terhadap efek yang ditimbulkan.

- Untuk menyatakan onset of action obat berdasarkan rute yang diberikan.

- Untuk menyatakan duration of action obat berdasarkan rute yang diberikan.

- Untuk mengetahui efek dari pemberian Diazepam 0,25 % dan alcohol 70% berdasarkan dosis dan rute pemberian terhadap hewan percobaan.

b. Alat

ü Spuit injeksi 1 cc

ü Sonde lambung

ü Stetoskop

ü Selang untuk pemakaian perektal

ü Alat cukur rambut

ü Stopwatch

ü Senter

c. Bahan

ü Diazepam 0,25 %

ü Alcohol 70%

d. Probandus

Kelinci

e. Cara kerja

Tiap kelompok bekerja dengan 4 hewan uji. Tiap hewan uji diberi obat dengan salah satu cara pemberian :

ü Hewan uji A dengan cara intraperitoneal

ü Hewan uji B dengan cara intramuscular

ü Hewan uji C dengan cara intracutan

ü Hewan uji D dengan cara peroral

f. Pengamatan

ü Amati dan catatlah interval waktu antara waktu pemberian obat dengan waktu timbulnya efek yang diamati (onset) dan waktu antara timbulnya efek dengan hilangnya efek itu (durasi) dari efek mengantuk, tidur, inkoordinasi motorik, relaksasi otot dan hilangnya reflex kornea dan cahaya.

ü Rerata dan durasi setelah digabungkan dengan hasil praktikum kelompok lain kemudian bandingkan antar cara pemberian obat.

g. Pembahasan

Kelompok

Berat Kelinci

Cara Pemberian obat

Onset

Durasi

I

300

IP

5/20

II

425

IM

5/42

III

260

IC

5/25

IV

200

ORAL

4/33

Dari hasil pengamatan diatas dapat disimpulkan bahwa timbulnya efek dan hilangnya efek (durasi) lebih cepat IP dibandingkan IM, IC dan oral. Karena IP tidak mengalami absorspi tetapi langsung masuk kedalam sirkulasi sistemik, sehingga kadar obat dalam darah diperoleh secara cepat dan dapat disesuaikan langsung dengan respon penderita.

Kesimpulan

- Cara pemberian secara intraperitonial (i.p.) dengan menyuntikkan tepat pada bagian abdomen kelinci dan melaui oral dengan menggunakan oral sonde untuk mempermudah masukknya obat kedalam mulut kelinci yang sempit dan langsung ke kerongkongan.

- Pada pemberian obat secara oral lebih lama menunjukkan onset of action dibanding secara Intraperitonial, hal ini dikarenakan Intraperitonial tidak mengalami fase absorpsi tapi langsung ke dalam pembuluh darah.Sementara pemberian secara oral, obat akan mengalami absorpsi terlebih dahulu lalu setelah itu masuk ke pembuluh darah dan memberikan efek.

* Semakin tinggi dosis yang diberikan akan memberikan efek yang lebih cepat

* Onset of action dari rute pemberian obat secar IP lebih cepat diperoleh daripada rute pemberian obat secara oral.

* Duration of action dari rute pemberian obat secara IP lebih panjang (lama) dibandingkan rute pemberian obat secara oral.

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M., 1994. Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Hal. 42-43.

Anonim I, 2008.Farmakologi-1.

http://71mm0.files.wordpress.com/2008/05/farmakologi-1.doc

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar